Riwayat Singkat Kota Pangkalpinang

Dalam bahasa Melayu, istilah kota memiliki pengertian yang serupa dengan pengertiannya dalam bahasa  Indonesia.   Disamping   arti   kata   kota   secara   leksikografis,   para   ahli   mengemukakan   pula   pengertian-pengertian tentang kota berdasarkan bidang keilmuan masing-masing. Sebagai contoh kota diartikan sebagai  permukiman  yang  permanen,  relatif  luas,  penduduknya  padat  serta  heterogen  dan  memiliki  organisasi-organisasi  politik,  ekonomi,  agama  dan  budaya  (Sirjamaki,  1964:4-6).  Bahkan  ahli  perkotaan  berbangsa  Perancis, Dora Jane Hamblin mengemukakan, bahwa kota adalah tempat yang dihuni secara permanen oleh  suatu kelompok yang lebih besar dari suatu komunitas. Di kota terjadi suatu pembagian kerja, yang kemudian  melahirkan kelompok-kelompok sosial dengan diferensiasi fungsi, hak dan tanggung jawab.

Memang  dalam  berbagai  definisi  tentang  kota  tercakup  unsur  keluasan  wilayah,  kepadatan  penduduk  yang bersifat heterogen dan bermata pencaharian non pertanian, serta fungsi administratif-ekonomi-budaya.  Unsur-unsur  tersebut  terwujud  pula  ke  dalam  fisik  kota  sehingga  terbentuklan  ciri-ciri  fisiknya.  Ciri-ciri  tersebut  kemudian  sebagian  tertinggal  sebagai  data  arkeologi,  sejarah,  arsitektur,  dan  sebagian  lain  yang  lebih  besar  jumlahnya  musnah  oleh  faktor  alam  dan  manusia.  Data-data  tersebut  berupa  artefak  dalam
berbagai  bentuk,  tata  ruang.  Sedangkan data  non artefak  yang  ditinggalkan suatu  kota  berupa  tradisi,  seni  dan toponim. Di Indonesia, kota-kota kuno biasanya berdiri di daerah pantai, di tepi sungai, atau di lembah-lembah  dengan  dilengkapi  berbagai  sarana  dan  prasarana  baik  politik,  keamanan,  ekonomi,  keagamaan, maupun  pemenuhan  kebutuhan  hidup  yang  lain.  Tampaknya  lokasi  suatu  kota  pada  zaman  dahulu  dipilih  berdasarkan berbagai macam pertimbangan yang menyangkut aspek-aspek tersebut di atas.

Aspek-aspek  di  atas  ternyata  secara  langsung  dialami  pula  oleh  Kota  Pangkalpinang. Secara  etimologis  Pangkalpinang berasal dari kata pangkal atau pengkal dan Pinang (areca chatecu). Pangkal atau pengkal yang  dalam bahasa Melayu Bangka berarti, pusat atau awal, atau dapat diartikan pada awal mulanya sebagai pusat  pengumpulan  Timah  yang kemudian  berkembang  artinya  sebagai  pusat  distrik,  kota  tempat  pasar,  tempat  berlabuh kapal atau perahu (wangkang) dan pusat segala aktifitas dan kegiatan dimulai. Sebagai pusat segala  aktifitas,  sebutan  Pangkal  atau  Pengkal  juga  digunakan  oleh  orang  Bangka  masa  lalu  untuk  penyebutan  daerah-daerah  seperti  Pangkal  Bulo,  Pangkal  Raya,  Pangkal  Menduk,  Pangkal  Mangas,  Pangkal  Lihat  yang  kemudian  menjadi  Sungai  Lihat  atau  Sungailiat  sekarang.  Sedangkan  Pinang  (areca  chatecu)  adalah  nama  sejenis tumbuhan Palm yang multi fungsi dan banyak tumbuh di Pulau Bangka.

Pusat  pemukiman  awal  Pangkalpinang  dibangun  ditepi  Sungai  yang  membelah  Kota  Pangkalpinang.  Proses  pembentukan Pangkalpinang  menjadi  sebuah  kota  seperti  sekarang sangatlah panjang  dan berakar,  dimulai  dari  ditemukannya  biji  timah  yang  terkandung  hampir  di  seluruh  pelosok  Pulau  Bangka,  sampai  upaya  eksploitasi  timah  dan  hasil  bumi  Pulau  Bangka  seperti  Lada  Putih,  Karet  dan  Damar  oleh  berbagai  bangsa. Pembentukan Pangkalpinang dimulai sejak adanya perintah Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I
Adi Kesumo kepada Abang Pahang bergelar Tumenggung Dita Menggala dan kepada Depati serta Batin-batin,  baik Batin Pesirah maupun Batin Pengandang dan kepada para Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari  Pangkal atau Pengkal sebagai tempat kedudukan Demang dan Jenang yang akan bertugas untuk mengawasi  parit-parit penambangan timah, mengawasi pekerja-pekerja yang disebut kuli tambang dari Cina, Siam, Kocin  dan  Melayu  dan  mengawasi  distribusi  timah  dari  parit-parit  penambangan  hingga  sampai  ke  Kesultanan  Palembang Darussalam. Diantara pangkal atau pengkal yang didirikan masa itu adalah pangkal Bendul, Bijat,  Bunut,  Rambat,  Parit  Sungai  Buluh,  Tempilang,  Lajang,  Sungailiat,  Cegal,  Pangkal  Koba,  Balar,  Toboali  dan  Pangkalpinang yang kita kenal sekarang.

Dari  tinjauan  sejarah  dengan  dasar  kajian  yang  jelas  dan  literat  dari  Tim  Perumus  hari  Jadi  Kota  Pangkalpinang,       berdirinya    Pangkalpinang       diprediksi   jatuh    pada    17   September      1757    yakni    di  masa  pemerintahan Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin I Adi Kusumo. Di masa pemerintahannya, Beliau sudah  membentuk 14 Pangkal di Pulau Bangka termasuk di dalamnya Pangkalpinang.

Lantas apa latar belakang dipilihnya tanggal tersebut? Saat perwakilan dari tim perumus Hari Jadi Kota  Pangkalpinang  bersama  perwakilan  Pemerintah  Kota  Pangkalpinang  melakukan  studi   banding  ke  UPT  Permuseuman  Palembang,  diperoleh  informasi  yang  cukup  jelas,  bahwa  pada  tahun  1724  sampai  dengan  1757,  Kesultanan  Palembang  dipimpin  oleh  Sultan  Mahmud  Badarudin  I  Jayawikromo.  Namun  setelah  ia  wafat  pada  tanggal  17  September  1757,  diangkatlah  Susuhunan  Ahmad  Najamuddin  Adikusumo  sebagai  penggantinya   menjadi   Sultan  Palembang.   Sebelum  Sultan  Mahmud  Badarudin  II     wafat,   Beliau  sudah  memberikan  titah  dan  kuasa  untuk  mengelola  tata  pemerintahan  serta  mencari  dan  memperluas  daerah  kesultanan kepada Sultan Susuhunan Ahmad Najamuddin Adi Kusumo. Perlu diketahui, ciri khas kesultanan,  jika  pemimpin  atau  sultan  meninggal,  maka  di  hari  meninggalnya  sultan  itulah  diangkat  pengganti  untuk  meneruskan  pemerintahan.  Maka  dari  keterangan  di  atas,  dapat  ditarik  simpulan  bahwa  hari  lahir  Kota  Pangkalpinang  adalah  pada  tanggal  17  September  1757,  bertepatan  dengan  meninggalnya  Sultan  Mahmud  Badarudin  II  dan  diangkatnya  Susuhunan  Ahmad  Najamuddin  Adikusumo  sebagai  penggantinya  menjadi  Sultan Palembang.

Setelah Susuhunan Ahmad Najamuddin Adikusumo memimpin, ia segera memerintahkan Abang Pahang  bergelar Tumenggung Dita Menggala dan kepada Depati serta Batin-batin, baik Batin Pesirah maupun Batin  Pengandang serta kepada para Krio yang ada di Pulau Bangka untuk mencari Pangkal atau Pengkal sebagai  tempat  kedudukan  Demang  dan  Jenang  yang  akan  bertugas  untuk  mengawasi  parit-parit  penambangan
timah,  mengawasi  pekerja-pekerja  yang  disebut  kuli  tambang  dari  Cina,  Siam,  Kocin  dan  Melayu  dan  mengawasi       distribusi   timah    dari   parit-parit   penambangan        hingga    sampai     ke   Kesultanan   Palembang  Darussalam.  Diantara  pangkal  atau  pengkal  yang  didirikan  masa  itu  adalah  pangkal  Bendul,  Bijat,  Bunut,  Rambat,   Parit   Sungai   Buluh,   Tempilang,   Lajang,   Sungailiat,   Cegal,   Pangkal   Koba,   Balar,   Toboali   dan  Pangkalpinang yang kita kenal sekarang.

About these ads