Tag

, , , , , ,

Rute Kepulangan:

1. Kamis pukul 17.00 waktu Bogota atau Jumat subuh waktu Jakarta, Nazaruddin dan 10 orang anggota tim penjemput yang dipimpin Brigjen Pol Anas Yusuf meninggalkan Bandara El Dorado, Bogota, Kolombia.
2. Dua jam kemudian, pesawat transit di Barbados di Kepulauan Karibia
3. Menempuh perjalanan selama sekitar enam jam, pesawat turun di Dakar, Senegal.
4. Dari Dakar, pesawat selanjutnya menuju Nairobi, namun dipaksa turun di Kongo untuk mengurus izin melintas. Butuh waktu lima jam untuk menyelesaikan izin.
5. Dua setengah jam meninggalkan Kongo, pesawat yang membawa Nazaruddin transit di Nairobi, Kenya.
6. Enam jam kemudian, pesawat transit di Maladewa
7. Lima jam kemudian, pesawat mendarat di Bandara Halim Perdanakusumah

Penyebab lamanya perjalanan:
1. Mengurus izin permit yang cukup lama
2. Gangguan cuaca
3. Pesawat kecil, sehingga tidak bisa dipacu kencang
Sumber: keterangan Direktur V Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri Brigjen Anas Yusuf

Nazaruddin Ditangkap di Kolombia

Buronan Interpol Mohammad Nazaruddin sudah ditangkap. Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu ditangkap di negeri jauh di latin Amerika, Kolombia. Menkopolhukam, Djoko Suyanto, mengumumkan penangkapan Nazaruddin siang hari ini, Senin 8 Agustus 2011. Menurut Djoko, Nazaruddin ditangkap semalam, Minggu 7 Agustus 2011 pukul 21.00 WIB. Ditangkap di Kota Cartagena, Kolombia.

“Semalam lewat Kemenlu dari Dubes di Kolombia, bahwa telah diterima seseorang ditangkap yang dicurigai sebagai Nazaruddin olehg Interpol,” kata Djoko Suyanto di Istana Negara, Senin 8 Agustus 2011.

Menurut Djoko, penangkapan ini atas kerjasama Interpol, KPK, Imigrasi, dan Kementerian Luar Negeri. “Sementara ini hasil dari penyelidikan di Katargena, identik dengan yang disebut dengan Nazaruddin,” ujarnya.

Nazaruddin pergi meninggalkan Indonesia sejak 23 Mei 2011. Saat itu, Nazaruddin mengaku akan berobat di Singapura. Namun, sampai ditetapkan sebagai tersangka, Nazaruddin tak kunjung kembali ke Indonesia. Nazaruddin sudah tiga dipanggil KPK terkait dengan kasus suap Kementerian Pemuda dan Olharga dan kasus korupsi pengadaan barang dan jasa di Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan.

Neneng mendampingi Nazar di Kolombia

Misteri keberadaan istri dan keluarga M. Nazaruddin masih belum terungkap hingga tadi malam. Ketika mendarat di tanah air, Neneng Sri Wahyuni, isteri Nazaruddin tidak ikut serta.

Tidak terlihatnya Neneng Sri Wahyuni dalam penerbangan itu mematahkan penyataan Kadiv Humas Polri Irjen Pol Anton Bachrul Alam yang menyebut istri Nazaruddin juga akan dibawa pulang. “Tidak ada di dalam pesawat. Nazaruddin sendirian,” ujar Kabiro Penerangan Humas Polri Brigjen Pol I Ketut Untung Yoga Ana di Bandara Halim Perdanakusumah.

Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan Neneng sudah simpang siur sejak Nazaruddin tertangkap di Cartagena, Kolombia seminggu lalu. Saat itu, polisi Kolombia mengatakan jika Nazaruddin bersama seorang perempuan dan dua orang laki-laki. Namun, karena tidak ditemukan pelanggaran pada perempuan tersebut, dia dilepaskan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mencari istri Muhammad Nazaruddin, Neneng Sri Wahyuni, beserta saudaranya yang diduga Muhammad Nasir. Namun demikian, KPK masih belum mendapatkan informasi mengenai dua saksi kasus korupsi yang menyeret nama Nazaruddin tersebut.

Nah, informasi Neneng ada di Kolombia ternyata mengagetkan KPK. Sebab, Neneng sebenarnya juga dicekal untuk berpergian ke luar negeri. Maklum, dia adalah saksi kasus dugaan korupsi dalam pengadaan pembangkit listrik tenaga surya di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Cekal keluar setelah Neneng mangkir dari panggilan KPK.

Sampai saat ini, KPK dipastikan tetap menempatkan Neneng dalam daftar pencarian orang (DPO). Menurut juru bicara KPK Johan Budi, dia mengakui bahwa sempat mucul kabar Nazar ditangkap bersama istrinya dan dibawa dengan pesawat yangg sama dengan Nazar. “Tetapi, kami pastikan Nazar diterbangkan sendiri,” katanya.

Dimana Neneng sekarang? Tidak ada yang tahu pasti. Namun, dugaan keberadaannya di Malaysia makin menguat. Apalagi, sebelum dibawa pulang ke Indonesia, Nazaruddin sempat meminta agar pesawat yang ditumpanginya mampir dahulu ke Malaysia. Namun, Dubes Indonesia di Kolombia Michael Manufandu menolak permintaan itu.

Dugaan itu selaras dengan klaim Mabes Polri yang mengetahui dimana kedua anak Nazaruddin berada. Sebelumnya, Irjen Pol Anton Bachrul Alam menjelaskan jika kedua anak Nazaruddin ada di Malaysia. Mereka dititipkan kepada kerabat Nazar di Kuala Lumpur, Malaysia. “Sudah lama ada di sana,” ucapnya.

Menurut Anton, Neneng mendampingi Nazar di Kolombia bersama sepupunya Rahmat Nasir dan warga negara Singapura Eng Kiam Lin. Namun hingga tadi malam, ketiganya tidak nampak dalam rombongan.

Kalaupun memang keluarganya ada di Kuala Lumpur, Nazaruddin justru tidak terlihat memasuki negeri Jiran. Sebab, sejak kali pertama kabur ke Singapura, mantan politisi Partai Demokrat itu lantas ke Vietnam, Kamboja, Republik Dominika, dan Kolombia.

“Dia lari, jadi buronan.

Istana tampaknya tak akan merestui jika mantan bendahara umum Partai Demokrat (PD) Muhammad Nazaruddin mendapat perlindungan hukum dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Alasannya, mantan orang dekat Ketua Umum PD Anas Urbaningrum itu tidak menunjukkan itikad baik bekerja sama mengungkap kasus.

“Dia lari, jadi buronan. Kemudian dari persembunyiannya dia bilang begini, begitu. Apakah yang seperti itu menunjukkan dia bekerja sama mengungkap kasus?” kata staf khusus kepresidenan bidang hukum dan HAM Denny Indrayana di sela-sela diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, kemarin (13/8).

Denny justru khawatir lembaga seperti LPSK dimanfaatkan para tersangka kasus korupsi untuk berlindung di balik status pelaku yang bekerjasama (justice collaborator). Dia menuding, itu merupakan modus umum para tersangka korupsi yang mendadak minta perlindungan hukum begitu ketahuan kejahatannya. Kalau memang Nazaruddin berniat baik membongkar praktek korupsi, mengapa dia tidak membeber datanya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan menyerahkan uang hasil korupsi.

“Contoh pelaku yang bekerjasama itu sampai saat ini ya Agus Tjondro (mantan anggota fraksi PDI Perjuangan yang jadi terpidana kasus cek pelawat, Red). Dia mengungkap praktek korupsi, dia mengembalikan uang. Akhirnya, dia dituntut ringan, dia dihukum ringan. Sekarang dipenjara di dekat rumahnya,” kata Denny.

Untuk mendapat perlindungan hukum, kata Denny, tidak gampang. Nazaruddin harus menjalani serangkaian verifikasi dan pemeriksaan. “Kita harus hati-hati untuk memasukkan Nazaruddin dalam perlindungan. Jangan sampai justru kita yang dimanfaatkan,” kata Denny yang juga Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum itu.

Denny menambahkan, ada sejumlah pertimbangan untuk memasukkan Nazaruddin ke dalam perlindungan LPSK. Di antaranya, harus dilihat apakah dia mengakui melakukan korupsi sebagaimana yang disangkakan terhadap dirinya oleh KPK.

Selain itu, apakah Nazaruddin mau mengembalikan uang hasil korupsinya. Denny pesimis politikus PD itu akan mendapat perlindungan. Sebab, dia dinilai belum menunjukkan itikad baik bekerja sama dengan penegak hukum. Apalagi Nazaruddin justru balik menuding KPK menyalahgunakan wewenang dengan pertemuan-pertemuan khusus antara dirinya dan pejabat KPK.

“Kalau saya LPSK bagaimana mungkin saya mengklasifikasikan buron sebagai pelaku yang bekerja sama? Biarkan KPK yang memverifikasi persoalan etik. Kita percaya KPK akan bertindak profesional. Masak kita percaya orang seperti Nazaruddin?” katanya.

Apa yang selama ini menjadi tanda tanya publik seputar penangkapan Nazaruddin, tersangka kasus suap Sesmenpora, di Kolombia terjawab tadi malam. Misalnya, soal flash disk di tas cangklong Nazaruddin yang selama ini disebut-sebut berisi data yang bisa menyeret beberapa elite di Partai Demokrat.

Ketika jumpa pers di gedung KPK tadi malam, tepatnya dimulai pukul 23.30, petugas membeber satu per satu barang di tas cangklong Nazaruddin. Seperti diberitakan, saat ditangkap di Cartagena, Kolombia, tas itu dititipkan oleh Nazaruddin kepada Dubes RI di Kolombia Michael Manufandu. Tas itu lantas disegel.

Tadi malam, di depan wartawan, isi tas cangklong merek Dunhill itu dibeber oleh petugas. Selain flash disk merek Sony Vaio 4 GB, tas tersebut berisi sejumlah barang. Antara lain, sebuah BlackBerry Torch, sebuah BlackBerry Bold 9700, HP Nokia C5, HP Nokia E7, satu power crystal, dan satu jam tangan berwarna hitam dengan kaca depan pecah. Barang-barang lain adalah sebuah charger BlackBerry, satu tiket elektronik atas nama Syarifuddin dari Cartagena ke Bogota, uang tunai USD 20 ribu, satu dompet berisi lima lembar uang USD 100, dan sejumlah uang peso Kolombia.

Yang menjadi pertanyaan, CD yang pernah ditunjukkan oleh Nazaruddin saat melakukan wawancara lewat Skype dengan Iwan Piliang dan disebut berisi data-data yang memperkuat ”nyanyiannya” tak ada dalam daftar isi tas cangklong itu. Apakah memang benar-benar tidak ada di tas cangklong” Atau, oleh Nazaruddin sudah diamankan lebih dulu saat dirinya ditangkap” Itulah yang masih menjadi misteri.

Misteri tersebut tak terjawab dalam jumpa pers tadi malam. Jumpa pers itu diikuti seluruh pimpinan KPK, Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman, dan petugas imigrasi. Juga ikut dalam acara tersebut ketua tim yang memimpin kepulangan Nazaruddin, Brigjen Pol Anas Yusuf.

Sutarman ketika mendapat kesempatan berbicara menggambarkan betapa sulitnya mengejar Nazaruddin. ”Kami membuntuti Nazaruddin selama berminggu-minggu. Anak buah kami sampai tidak tidur,” ujar dia.

Namun, dia tidak menutup mata bahwa hubungan bilateral antarnegara bisa berpengaruh pada cepat lambatnya buron tertangkap. Karena keterbatasan ruang gerak itu, dia memilih bekerja secara kolektif. ”Kami tidak mungkin ada di negara lain. Karena itu, kami bermitra dengan Interpol,” ucap Sutarman.

Yang menarik, Ketua KPK Busyro Muqoddas tadi malam juga mengungkapkan rencana KPK yang kini menyidik dan menyelidiki kasus korupsi yang diotaki Nazaruddin di berbagai kementerian. Ada tiga klasifikasi yang dia gunakan untuk mendalami kasus itu. Pertama, penyidikan di dua kementerian dengan kerugian Rp 200 miliar. Kedua, penyelidikan sejumlah proyek senilai Rp 2,6 triliun.

Ketiga, pengumpulan bukti dan keterangan (pulbuket) dari 31 kasus, termasuk penyidikan dan penyelidikan. ”Jadi, dari tiga klasifikasi itu, total kerugian negara Rp 6,037 triliun,” ujarnya.

Anas selaku ketua tim juga mempertanggungjawabkan proses pengejaran Nazaruddin. Dia menjelaskan alasan keterlambatan timnya datang ke Indonesia. Padahal, pesawat komersial yang digunakan pengacara Nazaruddin, O.C. Kaligis, sudah sampai terlebih dahulu. ”Ada gangguan pesawat dua kali,” jelasnya.

Dia memastikan bahwa perjalanan tim dan Nazaruddin ke Indonesia tidak dibelokkan ke mana-mana. Termasuk, tidak memenuhi keinginan Nazaruddin untuk mampir ke Malaysia. Anas menyebut, keterlambatan itu, salah satunya, disebabkan timnya harus mengurus izin ketika melintasi beberapa negara. ”Masuk negara kami harus permisi. Kalau tidak, bisa ditembak,” urainya.

Dia lantas menjelaskan, setelah bertolak dari Bandara El Dorado, Kolombia, timnya berangkat ke Barbados, sebuah negara di Kepulauan Karibia. Pesawat lantas terbang menuju Dakar, Senegal. Nah, masalah terjadi saat mereka berangkat menuju Kenya. ”Masalah terjadi karena kami dipaksa berhenti di Kongo,” tegas Anas (rute kepulangan Nazaruddin baca grafis). Setelah pemeriksaan selesai, mereka melanjutkan perjalanan ke Kenya, lantas ke Maladewa. Setelah itu, mereka langsung bertolak menuju Jakarta dan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma pada pukul 19.51.

Anas juga mengurai isi tas Nazaruddin. Sebelumnya, dia menjelaskan bahwa tas tersebut sempat dititipkan kepada Dubes karena tidak bisa membawa. Maklum, begitu ditangkap polisi Kolombia, tangan Nazaruddin langsung diborgol. Sebelum berangkat ke tanah air, tas tersebut baru dibuka.

Nazaruddin tiba di KPK tadi malam sekitar pukul 22.30. Ada informasi menarik yang diperoleh Jawa Pos dari sumber internal KPK. Saat digelandang menuju gedung KPK, mantan bendahara umum DPP Partai Demokrat itu dibalut rompi antipeluru. Bisa jadi, upaya ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terkait dengan keselamatan Nazaruddin.

Rompi tersebut dilepas saat Nazaruddin sudah masuk ke gedung KPK untuk diperiksa. Nah, saat keluar untuk menyaksikan penandatanganan serah terima Nazaruddin kepada KPK di ruang tunggu gedung KPK, rompi tersebut sudah dilepas.

Nazaruddin hanya terlihat mengenakan kemeja biru dan berbalut jaket cokelat. “Ya, itu rompi antipeluru. Dipakai setelah di bandara,” ucap seorang petugas yang mengawal Nazaruddin.

Sumber :

Berbagai sumber