Tag

, , , ,

Setiap orangtua perlu menyadari seberapa dekat dirinya dengan anak-anaknya. Artinya, orangtua perlu berupaya untuk merespons kebutuhan emosional anak, sehingga anak pada akhirnya merasa dimengerti dan dihargai. Setiap anak memiliki kebutuhan akan afeksi dan perhatian yang berbeda, tergantung kepribadian dan temperamennya. Karenanya, cara setiap orangtua dalam mendekatkan diri kepada anak bisa berbeda, antara keluarga satu dengan keluarga lainnya.

Inilah tantangan yang dihadapi orangtua modern. Pasalnya, banyak orangtua bekerja yang disibukkan dan dibuat stres dengan tuntutan pekerjaan dan karier. Belum lagi kekhawatiran orangtua mengenai kondisi keuangan yang memberikan tekanan tersendiri bagi keluarga. Bagaimanapun kondisinya, adalah tugas orangtua untuk tetap membangun kedekatan dengan anak-anaknya. menciptakan hubungan emosi positif yang bermanfaat dan berdampak besar bagi anak.

Berikut lima prinsip sederhana yang perlu diaplikasikan orangtua agar memiliki hubungan akrab dengan anak:

1. Menerima temperamen anak.
Setiap anak tumbuh dengan temperamen yang unik, hasil dari pengasuhan dan didikan sejak belia bahkan sejak lahir. Temperamen anak umumnya terbagi empat kategori, easygoing, suka tantangan, tenang, campuran dari beberapa temperamen.

Tugas penting orangtua adalah menyesuaikan diri dengan kepribadian anak. Tantangan semakin besar ketika orangtua memiliki temperamen yang bertolak belakang dengan anak. Sebagai orang dewasa, menerima temperamen anak akan membantu anak dan menimbulkan rasa aman dan percaya. Dampaknya, anak merasa nyaman dengan dirinya, identitasnya.

2. Investasi waktu.
Banyak orangtua yang mengkotak-kotakkan antara kuantitas dan kualitas waktu. Anggapan seperti, “Saya memang tak banyak meluangkan waktu namun ketika ada waktu saya selalu bersenang-senang dengan anak,” menjadi andalannya. Untuk mempunyai kualitas waktu dengan anak, orangtua perlu meluangkan sebanyak mungkin waktu bersama anak-anaknya. Kebersamaan yang lebih sering dengan anak, menjadi momen untuk membangun kepercayaan, saling memelajari bahasa cinta masing-masing antara orangtua-anak, selain juga memahami sepenuhnya karakter anak.

Momen berkualitas bersama anak tercipta dari aktivitas sederhana namun sering. Mulai saja dengan selalu berbicara dengan anak mengenai aktivitasnya seharian. Lakukan percakapan sesering mungkin. Membacakan cerita atau buku, kepada anak-anak juga bisa menjadi pilihan.

“Anak-anak membutuhkan keduanya, kuantitas dan kualitas waktu,” kata Janie Lacy, konsultan kesehatan mental bersertifikat dari Orlando.

3. Berikan sentuhan.
Sentuhan, sekecil apapun, memberi dampak besar bagi anak. Bahkan sekadar memberikan “tos” atau melakukan permainan adu panco. Apalagi memberikan kecupan saat anak mulai tertidur pulas di malam hari. Jangan sepelekan sentuhan-sentuhan kecil ini.

Sentuhan dari orangtua, merupakan pembelajaran bagi anak, bahwa ia merasa aman dan disayangi orangtuanya. Meski begitu, sekali lagi, orangtua perlu memahami kepribadian anak. Boleh jadi ada anak yang tak suka dikecup di depan teman-temannya. Ia hanya suka dipeluk saat berduaan saja dengan ayah atau ibunya misalnya. Mengenali kebutuhan dan kepribadian anak akan membantu orangtua dalam memberikan bentuk sentuhan yang tepat pada waktu yang tepat.

4. Mengajarkan anak nilai dan life skill.
Jangan asal berkata “Sudah, lupakan saja” atau “Kamu seharusnya nggak perlu merasa seperti itu,” saat anak sedang mengalami masalah atau bermasalah dengan emosi negatifnya. Cara seperti ini takkan efektif, dan terekam dalam otak anak yang akhirnya berpengaruh pada kepribadiannya saat dewasa.

Saat anak memiliki emosi negatif, ajarkan mereka untuk mengatasinya bukan mengabaikannya. Ajak anak mengatasi perasaan dan mencari solusi untuk mengubah emosi negatif menjadi lebih positif.

“Dengan begitu, anak-anak akan mampu mengelola emosinya lebih baik,” jelas Lacy.

Selalu katakan pada anak, bahwa Anda bersedia menjadi tempat berbagi. Anak selalu memerhatikan dan belajar dari setiap perilaku orang terdekatnya. Jadi jika ingin anak selalu berbagi dan mampu mengelola emosi, Ayah ibunya juga harus mampu menjadi contoh baiknya.

5. Menjadi contoh tangguh.
Anda adalah contoh bagi anak-anak. Bagaimana Anda mengelola stres, menghadapi masalah keluarga, bertahan dan menjaga keharmonisan rumah tangga di saat sulit sekalipun, inilah yang dipelajari anak dari ayah dan ibunya. Jika Anda dan pasangan membuktikan bahwa dalam kesulitan apapun, kondisi rumah tangga dan keluarga selalu kuat dan harmonis, dengan selalu berpikir dan bertindak positif, anak akan merasa aman dan nyaman.

Inilah sejumlah hal yang dapat membangun kedekatan orangtua-anak. Kesabaran, kegigihan, kesadaran dari orangtua menjadi kunci suksesnya. Pasangan suami-istri, akan menikmati hidupnya lebih baik, dengan kedekatan dan keakraban bersama anak-anaknya.

Menyaksikan anak bertumbuh dan berkembang hingga dewasa dengan cara positif, bukankah menjadi sumber kebahagiaan dan kesuksesan yang seutuhnya bagi orangtua?