Tag

, ,

Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Rieke Dyah Pitaloka, telah mendaftarkan diri ke partainya untuk maju sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat periode 2013-2018.

Hal itu dikatakan Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo melalui pesan singkat, Selasa (20/12/2011). “Ikutnya Rieke (sebagai bakal calon Gubernur) kami sambut baik,” kata Tjahjo.

Ia mengatakan, pihaknya terbuka, baik bagi seluruh kader PDI-P maupun non-kader untuk mencalonkan diri. Nantinya, kata dia, pihaknya akan memilih calon berdasarkan hasil uji kepatutan dan kelayakan serta survei internal.

Tjahjo menilai, Rieke sangat mampu mengemban tugas sebagai kepala daerah jika melihat kinerjanya sebagai anggota DPR, khususnya di Komisi IX. Dengan mendaftarkan diri sebagai bakal calon gubernur, kata dia, Rieke pastinya sudah mengukur kemampuan sendiri.

“Kita tunggu saja mekanisme partai dan hasil survei serta penugasan partai,” pungkas Tjahjo.

Seperti dberitakan, Rieke adalah anggota Dewan dari daerah pemilihan Bandung dan Cimahi, Jawa Barat. Selama ini, ia vokal menyoroti masalah buruh dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri.

Politisi PDI Perjuangan Rieke Dyah Pitaloka menyanggupi untuk maju sebagai bakal calon gubernur Jawa Barat pada pemilihan umum kepala daerah 2013.

“Saya hormati dan mengapresiasi dukungan untuk maju. Tentu, ini merupakan amanat yang harus saya pegang. Saya siap dan sudah berkomunikasi dengan berbagai pihak,” ujar pemeran Oneng dalam sinetron “Bajaj Bajuri” itu kepada Tribunnews.com, Minggu (18/12/2011).

Rieke yang kini sedang mengandung putra kembar itu menyatakan siap mengikuti segala tahapan pencalonan. Salah satunya dengan mengambil formulir pendaftaran ke PDI-P di Kantor DPD PDI-P, Bandung, Jawa Barat, pada Senin (19/12/2011) besok.

“Karena saya sedang hamil tua, maka yang ambil formulir pendaftaran staf saya. Nanti, pas penyerahan kembali, saya langsung yang antar ke Bandung sebelum batas akhir 31 Desember nanti,” kata Rieke yang ingin melahirkan melalui operasi bedah sesar 9 Januari 2012, seusai tanggal lahirnya.

Anggota Komisi IX DPR RI itu menegaskan, niatnya maju sebagai bakal calon gub Jabar didasari atas keinginannya untuk mengabdi pada masyarakat. “Harapannya tentu, ini adalah jalan. Berbakti bagi kampung halaman dan rakyat Jawa Barat. Yang terpenting adalah berjuang bagi rakyat, tak boleh surut, di manapun berada,” ujarnya wanita kelahiran Garut, Jawa Barat.

Perempuan Indonesia sebenarnya memiliki potensi untuk maju. Sejarah kemajuan berpikir dan bertindak perempuan Indonesia sudah dimulai sejak era Kartini, puluhan tahun silam.

Pola itu tidak sekadar emansipasi wanita belaka dan kesetaraan perempuan dan laki-laki, tetapi jauh melampaui konsep emansipasi itu sendiri. Oleh sebab itu, Kartini melawan setiap penindasaan yang dilakukan oleh siapa pun manusia, terutama priayi Jawa pada waktu itu. Pelajaran yang bisa dilakukan kaum perempuan sekarang adalah mendobrak setiap keterkungkungan di mana pun perempuan itu berada.

Demikian disampaikan Rieke Diah Pitaloka, politikus PDI-Perjuangan, Jumat (11/11/2011) pagi ini, saat dihubungi di Jakarta.

Sehari sebelumnya, dalam diskusi mengenai “Gagasan Perempuan untuk Reformasi Politik” di Kampus Program Studi Kajian Jender, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, Rieke juga berbicara hal yang hampir sama.

“Dalam surat-suratnya, di antaranya kita dapat mempelajari bahwa Kartini justru melawan penindasan yang dilakukan priayi Jawa dan memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan jender,” ujar anggota Komisi X DPR bidang Ketenagakerjaan dan Kesehatan ini.

Salah satu yang diperjuangan dan tidak sekadar kesetaraan jender, Rieke memberikan contoh, adalah pilihannya untuk memberikan tawaran beasiswa ke negeri Belanda kepada seorang pria. Pria yang dimaksud adalah Agus Salim.

“Itu menunjukkan bahwa kesempatan itu bisa diberikan kepada kaum laki-laki, yang dianggapnya memang mampu. Jadi, bukan sekadar keseteraan jender saja pilihannya. Ini artinya pria dan perempuan yang mampu memiliki kesempatan yang sama,” lanjutnya.

Rieke pun mengatakan, upaya mendobrak keterkungkungan bisa dilakukan secara pelan-pelan dan tidak harus frontal. “Saya sudah lakukan di DPR dan PDI-Perjuangan. Pelan-pelan keseteraan jender dapat masuk dalam program-program perjuangan partai dan rapat-rapat di DPR. Mendobrak bisa dimulai dengan bersikap kritis terhadap satu masalah. Jadi, kalau mau maju, harus berani mendobrak apa pun keterkungkungan,” jelas Rieke.