1.05Juni 2013
BALI – Ketergantung terhadap Bahan Bakar Minyak (BBM) sebagai sumber energy di Provinsi Bali secara perlahan tapi pasti akan dikurangi. Pemerintah telah mentargetkan Provinsi Bali menjadi provinsi yang menggunakan energy bersih dan ramah lingkungan karenanya dominasi BBM dalam bauran energy di Bali secepatnya diperbaiki dengan memanfaatkan sumber-sumber energy lainnya seperti gas bumidan energy baru terbarukan. Demikian diutarakan Staf Ahli Menteri Bidang Kelembagaan dan Perencanaan Strategis, I Gusti Nyoman Wiratmaja usai menbuka acara JODI Gas (3rd Gas Data Transparency Conference), Selasa (4/6/2013).
” Di Selat Madura banyak sekali cadangan gas, sangat potensial, sebagian kita bawa ke Banyuwangi, sebagian ke Madura dan sebagian lagi Bali, jaraknya ke Bali sekitar 100 Km. sekarang pipa gasnya baru ada di Gresik. Kita ingin pembangunan Banyuwangi, Madura dan Bali merata,”ujar IGN Wiratmaja.
Pemanfaatan gas bumi sebagai pengganti BBM disemua sector akan terus digalakkan Pemerintah selain di sector transportasi juga di industry, transportasi, industry dan pembangkit. “Kita Swichting gas hampir di semua bidang, kita harapkan growth per tahunnya tidak linier tetapi eksponensial karena ibaratkan seperti bola salju, jadi sekarang ibaratkan kita membuat bola salju yang pertama yang jika sudah menggelinding akan terus membesar,”tambah IGN Wiratmaja.
Provinsi Bali di rencanakan akan Pemerintah salah satu rencana pemerintah untuk mengurangi ketergantungannya terhadap BBM adalah memanfaatkan gas bumi secara masif. dengan menggunakan pipanisasi. Kebutuhan gas di Bali cukup banyak untuk kebutuhan hotel, industri dan pembangkit karena masih menggunakan BBM.
“Memang rencana kita di Kementerian, Bali akan menjadi prioritas selanjutnya untuk konversi BBM ke BBG tahun ini, seperti yang dicanangkan Menteri ESDM saat membuka acara Hiswana Migas. programnya kita sedang melihat, apakah kita mulai dari LGV dahulu karena kita sudah punya 3 LGV di bali tetapi belum ada mobil di Bali yang menggunakan converter.
” Target kami di Kementerian, sekarang masih banyak minyak, kemudian akan pindah ke clean energi, nanti akan pindah berikutnya ke green energi makanya Bali kita sebutnya, Bali clean and green energi kita sebutnya karena kalau langsung ke green energi berat investasinya,” ujar Wiratmaja.