100_9552
Merdeka.com – Uce RUSAL, perusahaan asal Rusia, akan berinvestasi di Indonesia dengan membangun smelter bahan tambang bauksit. Nilai investasi perusahaan asal Negeri Beruang Merah itu sebesar USD 6 miliar. Namun buat tahap awal akan dikucurkan USD 3 miliar.

“Dimulai dari USD3 miliar dulu untuk membangun smelter dari bauksit ke alumina lalu dari alumina ke aluminium,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Radjasa di Jakarta, Selasa (19/11).

Nantinya, pembangunan smelter tersebut berpotensi untuk industri hilir di Tanah Air. Hatta mencontohkan aluminium foil dan berbagai macam produk turunan dari aluminium.

“Dengan adanya investasi ini kita harapkan Indonesia berpotensi untuk menjadi basis industri aluminium di mana kita juga akan memiliki Inalum yang selama ini mengambil alumina dari luar negeri, padahal kita punya bauksit,” jelasnya.

Menurutnya, industri smelter yang memproduksi alumina dapat juga mendukung PT Inalum untuk menghasilkan aluminium. Sehingga, dapat mengembangkan industri yang terintegrasi di Indonesia.

“Dan berpotensi menjadi industri aluminium terbesar di dunia dengan potensi yang kita miliki,” katanya.

Uce Rusal menginginkan segera membangun smelter di Indonesia setelah mendapatkan kepastian dari pemerintah. Tetapi, pemerintah melalui ESDM masih akan membahas dengan DPR tentang hal ini agar tidak melanggar UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009 menyebutkan tidak diperbolehkan lagi mengekspor bahan mentah

“Mereka segera, begitu memang ada kepastian. Yang mereka khawatirkan adalah nanti begitu investasi kita flip flop. Jadi diizinkan lagi ekspor mentah, itu membuat mereka terpukul, apalagi investasinya sangat besar,” ungkapnya.

Hatta mengungkapkan perusahaan tambang asal Rusia tersebut tertarik membangun pabrik pengolahan pemurnian bauksit di Kalimantan. Keinginan perusahaan tersebut serius, karena sudah tiga kali membahas sebentar dengan dirinya.

“Sangat serius, sudah 3 kali di sini, baru ketemu saya sekarang di sini, karena waktu di APEC mereka datang ketemu sebentar dengan saya tapi nggak sempat melakukan pembahasan,” terangnya.

Namun, pihak Rusia ingin kepastian tentang UU Minerba pada tahun 2014 yang tidak memperbolehkan ekspor bauksit. Sebab, dalam peraturan tersebut, Indonesia menginginkan ekspor produksi yang sudah jadi atau dalam proses mengembangkan 100 persen ini.

“Nah inilah yg harus didiskusikan oleh menteri ESDM dengan DPR,” katanya.

Adapun, mitra lokal yang ingin diajak kerjasama dengan perusahaan tambang swasta asal Rusia adalah PT. Antam. Untuk itu, Hatta menyetujuinya, karena menganggap perusahaan pelat merah itu sudah terpercaya.

“Mereka menginginkan sama Antam, saya setuju kalau Antam BUMN kita, bagus ya,” tegasnya.

Uce RUSAL menurut Hatta adalah salah satu perusahaan bauksit terbesar di dunia dan di Rusia. Untuk itu dalam pertemuan tersebut ia menegaskan bahwa sesuai dengan Undang-Undang, maka sejak Januari 2014 tidak lagi memberlakukan ekspor bahan mentah bauksit.

“Terutama karena selama ini lebih dari 40 juta ton per tahun bauksit mentah kita diekspor ke cina, dan ini tidak memberikan manfaat yang besar bagi kita di dalam meningkatkan value added,” jelasnya.

Sumber : merdeka.com